Guru menunjukkan dampak pada pembelajaran siswa sebagaimana ditetapkan melalui nilai tes prestasi siswa, praktik pedagogis yang diamati, atau survei pemberi kerja atau survey siswa
A teacher’s demonstrated impact on students’ learning as established through student achievement test scores, observed pedagogical practices, or employer or student surveys
Pedoman penilaian kinerja guru: filosofi, teori dan praktek pembelajaran, mengelola perbedaan, menguasai isi penilaian dan instruksional, lingkungan pembelajaran, keterlibatan keluarga dan komunitas, pertumbuhan pprofesionalisme dan teknologi instruksional
Mengelola perubahan melalui pelatihan berkelanjutan (LAHAN MELAJU) dalam pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovasi untuk SDM Indonesia
Tuesday, July 30, 2019
Monday, July 29, 2019
SESI 2 GURU SEBAGAI PENDIDIK PROFESIONAL
- Pendidik profesional didorong oleh nilai, dipandu oleh prinsip, semangat, dan tujuan lebih besar dari diri mereka sendiri.
- Pendidik profesional diperlukan analis - kompeten untuk mendiagnosis dan menentukan pilihan untuk keberhasilan dan signifikansi pendidikan.
- Pendidik profesional percaya bahwa pekerjaan mereka adalah panggilan dan panggilan alih-alih pekerjaan di mana orang hanya menempati ruang.
- Pendidik profesional mengakui bahwa perubahan adalah norma. Mereka berorientasi pada pertumbuhan dan menganggap diri mereka pembelajar dan kontributor seumur hidup.
- Pendidik profesional adalah pencipta iklim, mengakui bahwa kondisi yang mengelilingi pembelajaran berkontribusi pada pembelajaran.
- Pendidik profesional adalah katalisator dalam mempromosikan risiko yang diperhitungkan yang memajukan profesi mereka dan memungkinkan setiap orang mengakses kesuksesan.
- Pendidik profesional mempromosikan kekompakan, kolaborasi, dan pembangunan tim. Mereka mempromosikan filosofi "kita lebih baik bersama".
- Pendidik profesional menciptakan iklim kepemilikan dengan memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan diundang untuk berpartisipasi.
- Pendidik profesional bertanggung jawab kepada klien mereka, masyarakat, orang tua dan siswa, menyediakan program pendidikan yang berkualitas untuk semua anak.
- Pendidik profesional adalah bagian dari organisasi yang mempromosikan profesi mereka di atas keuntungan pribadi.
Oleh Gene Bedley, Pendidik Nasional PTA Tahun 1986 dan Pendidik Nasional Yayasan Milken 1994
- Professional educators are value-driven, guided by principles, passion, and a purpose bigger than themselves.
- Professional educators are need analysts – competent to diagnose and prescribe options for educational success and significance.
- Professional educators believe their work is a vocation and calling rather than an occupation where one merely occupies space.
- Professional educators recognize that change is the norm. They are growth-oriented and consider themselves life-long learners and contributors.
- Professional educators are climate creators, recognizing that the conditions that surround learning contribute to learning.
- Professional educators are catalysts in promoting calculated risks that advance their profession and enable everyone access to success.
- Professional educators promote cohesiveness, collaboration, and team-building. They promote a “we are better together” philosophy.
- Professional educators create a climate of ownership by ensuring that everyone involved in the educational process is invited to participate.
- Professional educators are accountable to their clients, community, parents and students, providing a quality educational program for all children.
- Professional educators belong to an organization that promotes their profession above personal gain.
sumber:
https://www.astapro.org/index.php/about-us/the-professional-educator
SESI 1 APA MENGAPA BAGAIMANA KKG ITU?
Eksistensi dan kiprah forum Kelompok Kerja Guru (KKG), sekolah dasar (SD) dalam peningkatan mutu persiapan pembelajaran di Indonesia telah dirasakan oleh sebagian guru di republik ini.
Munculnya KKG, didesain untuk mendukung peningkatan kemampuan profesional guru di sekolah di daerah terkait sehingga berdampak terhadap penjaminan mutu pendidikan di kabupaten/kota yang berpengaruh positif terhadap pencapaian visi, misi dan tujuan pendidikan nasional. Aktivitas sangat bervariasi, antara lain: penyiapan silabus implementatif, bahan ajar, metode, penilaian proses dan hasil belajar, lembar kerja, dan pengembangan alat peraga. Semua upaya pengembangan itu di diharapkan mampu mendukung terwujudnya pembelajaran yang bermutu. Intensitas kegiatan forum-forum dimaksud berbeda-beda tergantung pada tingkat kepedulian dan komitmen berbagai unsur terkait pada tataran individu maupun manajemen pada tataran sekolah dan dinas pendidikan di daerah.
Secara makro, pengalaman empirik menunjukkan bahwa intensitas kegiatan forum dimaksud masih kurang optimum. Masalah utama yang dihadapi antara lain: (1) Manajemen KKG kurang berfungsi secara optimal. (2) Program-program pemberdayaan kurang menggigit dan kurang signifikan. (3) Dana pendukung kurang proporsional. (4) Perhatian dan kontribusi dinas pendidikan pada pemerintahan kabupaten/kota kurang optimum. (5) Rendahnya dukungan asosiasi profesi.
Munculnya KKG, didesain untuk mendukung peningkatan kemampuan profesional guru di sekolah di daerah terkait sehingga berdampak terhadap penjaminan mutu pendidikan di kabupaten/kota yang berpengaruh positif terhadap pencapaian visi, misi dan tujuan pendidikan nasional. Aktivitas sangat bervariasi, antara lain: penyiapan silabus implementatif, bahan ajar, metode, penilaian proses dan hasil belajar, lembar kerja, dan pengembangan alat peraga. Semua upaya pengembangan itu di diharapkan mampu mendukung terwujudnya pembelajaran yang bermutu. Intensitas kegiatan forum-forum dimaksud berbeda-beda tergantung pada tingkat kepedulian dan komitmen berbagai unsur terkait pada tataran individu maupun manajemen pada tataran sekolah dan dinas pendidikan di daerah.
Secara makro, pengalaman empirik menunjukkan bahwa intensitas kegiatan forum dimaksud masih kurang optimum. Masalah utama yang dihadapi antara lain: (1) Manajemen KKG kurang berfungsi secara optimal. (2) Program-program pemberdayaan kurang menggigit dan kurang signifikan. (3) Dana pendukung kurang proporsional. (4) Perhatian dan kontribusi dinas pendidikan pada pemerintahan kabupaten/kota kurang optimum. (5) Rendahnya dukungan asosiasi profesi.
Subscribe to:
Posts (Atom)